Perbedaan Hari Idul Fitri

October 10, 2007

Hari Senin kemarin di kantor saya ada buka bersama dengan menghadirkan penceramah yang enak sekali didengar, mudah dicerna bahasanya dan juga ada ngelanturnya sedikit (biasanya ini yang paling disukai jamaah).

Dalam sesi tanya jawab, rekan saya bertanya mengenai perbedaan pandangan dalam penentuan Hari Raya Idul Fitri yang beberapa tahun terakhir ini sering muncul di antara organisasi umat Islam. Memang sudah beberapa tahun terakhir ini umat Islam di Indonesia tidak serentak dalam melaksanakan Idul Fitri karena memang terdapat beberapa acuan yang halal yang bisa digunakan untuk menentukan Hari Raya Idul Fitri.

Pak Ustadz juga menjawab demikian. Satu organisasi yang telah memberikan pengumuman resmi mengenai kapan Hari Raya Idul Fitri bisa dipastikan menggunakan teori perhitungan atau yang disebut Hisab. Sedangkan pemerintah yang sampai saat ini belum menentukan Hari raya Idul Fitri kemungkinan akan menggunakan teori dengan melihat bulan/Hilal. Ada Hadits Rasulullah SAW yang mengatakan jika tidak terlihat bulan pada malam itu, maka genapkan puasanya hingga 30 hari (kira-kira begitu). Lalu bagaimana ? Yang mana yang akan kita teladani ? Pagi ini saya sempat membaca artikel surat kabar yang memuat hal ini yang ditulis oleh Ninok Laksono. Bahwa dengan kultur geografis seperti di Indonesia ada kemungkinan terjadi perbedaan Hari Raya antara daerah Indonesia yang paling timur dengan daerah Indonesia yang paling barat. Yah mungkin saja sih karena bulan yang terlihat pada bagian barat akan berbeda dengan bulan yang ada di bagian timur. Semakin bingung ?

Beberapa hari yang lalu seorang teman kantor bicara pada saat diskusi di waktu luang mengenai, bahwa Rasulullah saja untuk berpuasa 30 hari hanya dilakukan selama 4 kali dalam sejarahnya selebihnya 29 hari, lalu kenapa kita lebih sering 30 hari dengan alasan bulannya tidak kelihatan ? Saya juga kurang mengerti tata cara penglihatan hilal dan tata cara perhitungannya. Lalu apakah dengan semakin canggihnya peralatan yang ada saat ini tidak membuat bulan menjadi kelihatan atau walaupun tertutup awan/kabut mestinya kelihatan juga kan ? (gak tahu deh)

Menjadi semakin ragu untuk memilih ? Lalu seperti yang kita ketahui, ini adalah masalah keyakinan, mana yang kita yakini itu yang harus kita jalani. Dalam Islam diajarka untuk tidak mengambil jalan ditengah keragu-raguan. Lalu adalagi larangan dalam Islam mengenai berpuasa di hari tasyrik diantaranya adalah Hari Raya Idul Fitri.

Lalu bagaimana jika salah satu organisasi sudah menetapkan Hari Raya Idul Fitri sementara kita masih berpuasa. Bukankah akan menjadi haram dan berdosa ? Bagaimana juga pendapat beberapa orang yang ikut dengan oraganisasi lain yang berbeda dengan alasan masalah itu nanti akan ditanggung pemerintah ? Hmmf…. bagaimana mungkin masalah dosa ditanggung oleh orang lain ? Kita berpuasa atau tidak adalah untuk diri kita sendiri dan untuk Allah SWT, oleh sebab itulah semua menjadi tanggung jawab kita sendiri.

Mudah-mudahan tulisan ini menjadi wacana kita untuk berfikir tanpa menjadi ragu-ragu. Dan semuanya kita kembalikan kepada diri kita masing-masing. Dengan adanya perbedaan seperti ini menjadikan umat Islam lebih dewasa, lebih pintar dan sadar bahwa semua hal bisa ada perbedaan hanya tinggal bagaimana kita menyikapi dari setiap perbedaan tersebut. Iman dan Islam tetap harus terjaga utuh untuk menjadi moslem yang kaafah. Tetap jadikan Alquran dan Alhadits sebagai pedoman hidup. Amin.